Shopping Cart

Total Items:
SubTotal:
Tax Cost:
Shipping Cost:
Final Total:
Powered by Blogger.


  • Pernikahan merupakan goresan sejarah indah yang menyertai perjalanan hidup setiap insan. Hadirnya dinanti setiap diri karena dengan ikatan eratnya setiap insan dipersatukan dengan jodoh yang telah lamadiidamkan.

    Pernikahan, ibarat transisi perjalanan dari darat menuju lautan dan pasangan suami-istri laksana penumpang sebuah bahtera rumah tangga yang hendak mengarungi samudera kehidupan. Adakalanya pelayaran terhambat karena terpaan badai yang datang sebagai ujian kesabaran.

    Buku yang berjudul “Buku Pintar Pernikahan” ini ditulis sebagai bekal setiap insan dalam mengarungi samudera rumah tangga sehingga setiap pasangan terbebas dari terpaan badai yang memporakporandakan.
    Untaian indah buku ini berisi kiat-kiat memilih jodoh yang terbaik, tata cara penyelesain konflik rumah tangga, trik menjadi suami-istri idaman hingga bekal berharga berupa trik   mendidik anak. Telusuri lembaran-lembaran ajaibnya maka solusi praktis mempersiapkan keluarga sakinah akan Anda dapatkan.

    Selamat membaca!

  • Mistik Merapi seakan menjadi isu paling menghebohkan bebarapa waktu yang lalu. Belum lagi, isu-isu mistik lain yang dihubungkan dengan terjadinya bencana alam di beberapa wilayah Indonesia. Astagfirullaah… Naudzubillaah…
    Ingat! Mistik bisa menjurus kepada kesyirikan. Peran serta mengajak manusia ke dalam kesyirikan menjadin tujuan utamanya. Semakin banyak manusia yang menjadi syirik kepada Allah SWT, setan semakin bersorak. Untuk meredam sorak-sorai kemenangan setan, keimanan menjadi landasan utama.
    Buku ini mengungkap rahasia di balik dunia gaib jin, setan, dan iblais, mulai dari perbedaan, jenis, tempat tinggal, keistimewaan, kelemahan, sampai persamaan jin dan manusia. Peran jin dalam ilmu sihir, kesurupan, dan mistik menjadi salah satu topik pembahasan dalam buku ini. Kita wajib mengimani keberadaan mereka. Namun, bukan berarti kita harus berkenalan, berteman, bahkan menyembah mereka. Naudzubillah!
    InsyaAllah doa dan zikir menjadi benteng keimanan tipu daya mereka. Buku ini dapat dijadikan pegangan, doa dan zikir apa saja yang bisa didawamkan dalam keseharian agar hidup terhindar dari syirik dan tujuan hidup kita semata hanya untuk beribadah kepada Allah SWT. amin ya rabbal ‘alamin.

  • Ibadah shalat adalah ibadah yang sangat penting bagi seorang muslim. Selain karena termasuk salah satu rukun Islam, shalat merupakan pembeda antara muslim dan kafir. Ia juga merupakan ibadah yang pertama kali dihisab di hari akhir nanti. Oleh karenanya, tata cara shalat yang benar mutlak diperlukan oleh seorang muslim. Shalatlah yang menentukan baik atau rusaknya amalan-amalan lainnya yang telah diperbuat selama di dunia. Jika shalatnya baik maka baiklah seluruh amalannya. Sebaliknya, jika rusak shalatnya maka rusaklah seluruh amalannya.
    Segeralah perbaiki shalat kita karena kita tidak tahu sampai kapan bisa melaksanakannya. Dalam buku ini dijelaskan secara rinci mengenai ibadah shalat. Mulai dari makna, keutamaan, sejarah, syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi sebelum melaksanakan shalat, tata cara pelaksanaan shalat yang diajarkan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam lengkap dengan doa dan zikir setelah shalat, baik shalat fardu maupun shalat sunah.

    "أَوَّلُ مَا يُحَاسَبُ عَلَيْهِ الْعَبْدُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ الصَّلَاةُ، فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَنَجَحَ، وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ" (رواه أصحاب السنن عن أبي هريرة)
    “Sesungguhnya yang pertama kali dihisab pada diri hamba pada hari kiamat dari amalannya adalah shalatnya. Bila baik shalatnya maka ia telah lulus dan beruntung, dan bila rusak shalatnya maka ia kecewa dan rugi.” (HR. Ash-habus Sunan dari Abu Hurairah radhiallahu 'anhu)

  • Ummu Al-Fadl bercerita, Suatu ketika aku menimang seorang bayi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , kemudian mengambil bayi itu lalu menggendongnya. Tiba-tiba sang bayi pipis dan membasahi pakaian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam langsung saja kurenggut secara kasar bayi itu dari gendongan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun menegurku, “Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan oleh air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa anak akibat renggutanmu yang kasar itu?”
    Ketika ada anak yang dicap durhaka oleh masyarakat, pernahkah kita berpikir sebab apa yang membuat dia jadi bersikap durhaka pada orang tuanya. Pernahkah kita berpikir jika apa yang dilakukan oleh anak-anak adalah buah dari didikan orang tuanya.
    Tanpa sadar, sering kali kita telah bersikap tidak adil pada anak-anak. Ini terjadi, mungkin karena kita tidak mengerti proses perkembangan anak. Ketika anak-anak berbuat salah dengan tergesa-gesa kita mencapnya nakal. Padahal, bisa jadi hal itulah yang mesti dialami oleh seorang anak sesuai dengan usianya. Dan kita juga dengan tergesa-gesa ingin membenarkan sikap anak kita.
    Ketika anak berbuat salah dengan cepat sekali kita bereaksi. Mata kita melotot untuk membuat si buyung diam dari permainannya berloncat-loncat di atas kasur. Kita mengomel sepanjang hari ketika si upik merusak tas kesayangan kita. Bahkan, kita mencubitnya atau memukulnya kala mereka susah sekali disuruh mandi padahal hari menjelang maghrib.
    Anak-anak tidak hanya mengalami kekerasan di luar rumah oleh teman-teman sekolah, teman-teman sepermainan, atau oleh guru di sekolah. Mereka juga mengalami kekerasan di dalam rumah. Kemana mereka mencari perlindungan ketika orang yang paling dekat dengan mereka mengasari mereka? Bisa jadi kita menganggap anak-anak semakin nakal karena kita semakin tidak sabar mendidik mereka atau karena kita tidak memberikan hak anak-anak dengan semestinya.
    Pernah seorang laki-laki datang mengadu kepada Umar bin Khathab t bahwa anaknya telah durhaka kepadanya. Kemudian Umar mendatangkan anak itu untuk mengingatkannya bahwa ia telah mendurhakai bapaknya dan melupakan kewajibannya terhadap bapaknya.
    Anak itu bertanya pada Umar, “Wahai Amirul Mukminin bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?”
    Umar menjawab, “Ya tentu!” Anak itu bertanya, “Apakah hak-hak itu wahai Amirul Mukminin?”
    Umar menjawab, “Memilihkan ibunya, memberikan nama baik kepadanya, dan mengajarkan Al-Qur’an.”
    Anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melaksanakan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia, janda seorang Majusi, mereka telah menamakan aku ‘Si Kumbang Kelapa,’ dan belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari Al-Kitab (Al-Qur’an).”
    Kemudian Umar menoleh kepada laki-laki itu dan berkata, “Engkau telah datang menghadapku untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau pun telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”
    Dikisahkan pula bahwa seorang ayah mencela anaknya dengan mencela ibunya. Si Ayah berkata, “Apakah engkau akan menentangku padahal engkau adalah anak seorang budak wanita?”
    Si anak berkata kepada ayahnya, “Demi Allah, sesungguhnya ibuku lebih baik daripada engkau wahai ayahku!”
    Si ayah bertanya, “Mengapa begitu?”
    Si anak menjawab, “Karena dia telah menetukan pilihan yang baik sehingga dia melahirkan aku dari seorang laki-laki merdeka, sedangkan engkau telah menentukan pilihan yang jelek sehingga engkau melahirkan aku dari seorang budak wanita.”
    Sebenarnya kalimat kotor dan jelek yang terucap dari lidah ayahnya bertujuan untuk mendidik dan memperbaiki kesalahan, besar atau kecil yang dilakukan oleh anak. Akan tetapi, cara untuk mengatasi perbuatan dosa tersebut tidak perlu dilakukan dengan emosional atau kekerasan yang dapat meninggalkan pengaruh buruk dalam jiwa dan tingkah laku pribadi anak yang kemudian akan membentuk menjadi manusia yang tumbuh dengan bahasa celaan dan hinaan sehingga akan seperti akhlaknya orang-orang hina dan bodoh.
    Dengan perlakuan yang kejam ini, berarti kita telah berbuat dosa terhadap anak, selain telah menghancurkannya secara kejiwaan dan moral.
    Lalu bagaimana cara menanggulangi anak yang melakukan kesalahan? Ada baiknya kita meniru cara yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu dengan cara halus dan lemah lembut.
    Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abu Umamah bahwa seorang pemuda datang menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah engkau mengizinkan aku berbuat zina?”
    Orang-orang mencemoohnya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda, ”Mendekatlah engkau,” kemudian Pemuda itu mendekat hingga ia duduk di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Apakah engkau suka perzinaan itu terjadi pada ibumu?”
    Pemuda itu  berkata, “Tidak, semoga Allah menjadikan aku tebusanmu.”
    Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Demikian pula orang-orang tidak suka perzinaan itu terhadap ibu-ibu mereka. Apakah engkau suka terjadi terhadap putrimu?”
    Pemuda itu  berkata, “Tidak, semoga Allah menjadikan aku tebusanmu.”
    Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  bersabda, “Demikian pula dengan orang lain, ia tidak menginginkan hal itu terjadi terhadap putrinya. Apakah engkau suka melakukannya dengan saudara perempuanmu?”
    Demikian, selanjutnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  menyebutkan bibi dari pihak ayah dan bibi dari pihak ibu, dan pemuda itu tetap mengatakan, “Tidak, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.”
    Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  meletakkan tangannya di atas dada pemuda itu seraya berkata, “Ya Allah sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan peliharalah kemaluannya.”
    Setelah itu, pemuda itu berdiri dari hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam  dengan perasaan bahwa tidak ada sesuatu yang paling ia benci daripada zina.
    Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Mahalembut, serta menyukai kelembutan di segenap permasalahan.”
    Ibu, mendidik anak menjadi manusia yang berakhlak islami tidaklah mudah. Janganlah risau! Bersabar dan ikhlaslah dalam semua usaha kita membesarkan anak-anak. Dengan sabar dan ikhlas, Allah I. akan membimbing kita dalam membesarkan anak-anak.
    (dari Buku Kekuatan Doa Ibu, Ummi Maya)

  • Allah subhanahu wata'ala berfirman dalam Al-Qur'an surat Shaad ayat 26 tersebut di atas berarti:
    “Hai Daud, Sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka Bumi maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat karena mereka melupakan hari perhitungan.” (QS. Shaad [38]: 26)
    Kata “dhalim,” atau “lalim” adalah perilaku kejam tanpa rasa kemanusiaan. Sederetan dengan perilaku demikian timbullah kata “kesewenang-wenangan,” yaitu perilaku tanpa perhitungan melainkan demi memuaskan nafsunya sendiri.
    Karena adanya kezaliman yang berujung kepada kesewenang-wenangan dan penindasan maka timbullah perlawanan untuk mengembalikan rasa kemanusiaan pada tempatnya yang mulia. Perlawanan terhadap kezaliman itu biasa kita sebut dengan “keadilan.”
    Keadilan menjadi pondasi kuat kepemimpinan, sedangkan bila kepemimpinan berpondasikan kezaliman maka akan menimbulkan protes dan perlawanan rakyat yang dipimpinnya. Coba kita kembalikan ingatan kita pada sejarah masa lalu para nabi untuk kita ambil pelajaran dari mereka. Bukankah kezaliman Namruz dihancurkan Ibrahim? Bukankah Zalut dihancurkan Daud? Bukankah Fir’aun dihancurkan Musa? Nabi-nabi kaum tertindas (mustadafin) selalu melakukan protes dan perlawanan bahkan sampai penggulingan para pemimpin yang menindas (mustadifin) demi terciptanya rasa keadilan dan kedamaian.
    Sekalipun kezaliman berakhir dengan kekacauan, sebaliknya keadilan berakhir dengan kedamaian yang sesungguhnya dambaan setiap manusia karena sesuai dengan rasa kemanusiaan. Namun pada kenyataannya, masih banyak pemimpin dunia yang berlaku sewenang-wenang terhadap rakyat yang dipimpinnya. Selalu saja lebih mementingkan ketidakadilan demi pemenuhan hawa nafsu dirinya dari pada keadilan demi pemenuhan kemanusiaan. Bila demikian, ada benarnya apa yang dikatakan Moore (orang filusufis):
    “Kesepakatan-kesepakatan tentang apa yang disebut ketidakadilan lebih mudah daripada tentang keadilan.” 
    Dengan kata lain, kebaikan dan kebenaran itu sulit lakukan dan oleh karena itu pula, Allah memberikan dorongan kepada siapapun yang melakukan kebaikan akan diberikan pahala yang berlipat ganda.
    “Barang siapa yang mendatangkan satu kebaikan maka baginya sepuluh kali lipat (kebaikan) dan barang siapa yang mendatangkan keburukan maka baginya tidak mendapatkan pahala kecuali yang semisalnya...”
    Kezaliman itu sesungguhnya menganiaya diri sendiri dan melanggar hukum moral kemanusiaan. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah [2]: 54.
    “Dan (ingatlah), ketika Musa berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, sesungguhnya kamu telah menganiaya dirimu sendiri karena kamu telah menjadikan anak lembu (sembahanmu) maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan bunuhlah dirimu. hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; Maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah [2]: 54)
    Demikian, Musa meninggalkan kaumnya karena Samiri menyelewengkan tauhid kepada syirik dengan memerintahkan pengikutnya menyembah lembu, sedangkan menyembah lembu berarti penghinaan terhadap akal manusia. Bukankah ini perilaku zalim yang senyata-nyatanya?
    Betapapun berat menggenggam keadilan mestilah keadilan diperjuangkan dan dipertahankan karena keadilan yang mendekatkan kepada takwa itu sesungguhnya pondasi kita untuk melestarikan seluruh sektor  kemanusiaan itu sendiri.
    diambil dari buku Khutbah Jumat Sepanjang Masa

  • Bukan hal yang salah ketika kita memilih untuk marah. Hal ini sangat manusiawi. Siapa pun berhak marah dan memperlihatkan sikap marah. Kita tidak perlu merasa berdosa. Selama sesuai konteks dan bisa dikendalikan, marah masih bisa diterima. Bahkan, Rasulullah Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam, manusia yang sudah Allah subhanahu wata'ala jamin kesucian dan kerasulannya juga pernah marah. Namun, kemarahan Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam ditunjukkan dengan diam. Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam hanya menggunakan bahasa tubuhnya ketika marah. Hal itu ternyata sangat efektif membuat orang lain di sekitarnya sadar atas kesalahan mereka, terutama para istri Rasulullah yang pernah saling iri dan membenci satu sama lain. Demikian pula dengan para sahabat yang berada sangat dekat dengan beliau.
    Tak ada ayat yang melarang kita marah. Yang paling sering disampaikan adalah menahannya. Allahsubhanahu wata'ala selalu mengatakan bahwa mereka yang mampu menahan amarah menunjukan derajat ketakwaan yang lebih tinggi. Berulang-ulang Allahsubhanahu wata'ala menganjurkan dalam Al-Quran untuk mengutamakan pemberian maaf. Lihatlah firman berikut ini.
    “Apabila engkau memaafkan dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s At Taghaabun: 14).
    “Maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s. Al Maidah: 13)
    Kedua ayat tersebut menyiratkan bahwa marah bisa menjadi pilihan, namun memaafkan tetap merupakan pilihan terbaik.
    Kadang, kita memang perlu mengambil sikap marah bila hal itu efektif untuk menggerakkan energi positif yang kita atau orang lain miliki. Mencontoh Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam ketika marah bisa kita jadikan pilihan. Bukan tanpa alasan Rasulshallallahu 'alaihi wasallam memilih diam ketika marah. Ketika marah, tanpa sadar kita bisa mengeluarkan kata-kata kasar atau sikap yang mungkin saja menyakiti hati orang lain. Keinginan untuk menjaga perasaan orang lain dari kemungkinan sakit hati adalah pilihan Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam. Itu sebabnya mengapa beliau memilih diam ketika marah.
    Dalam salah satu haditsnya, Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam juga meminta kita untuk duduk, berbaring, dan segera berwudu ketika marah. Dingin dan segarnya air wudhu akan membuat kepala dan hati yang panas terbasuh dengan kesejukan. Tidak hanya itu, ketika berganti sikap tubuh saat sedang marah, secara tidak langsung telah memberitahu orang yang bersangkutan bahwa kita marah, tanpa harus mengungkapkannya dengan kata-kata. Begitu pula ketika harus memilih pergi untuk berwudu. Dengan pergi sesaat meninggalkan situasi tersebut, rasa marah bisa teredam dan kita dapat mengambil jarak sejenak dengan masalah yang dihadapi. Biasanya, dari situ kita akan lebih bisa melihat dan menilai persoalan dengan jernih. Dengan demikian, kita bisa terhindar dari kemarahan yang bersifat destruktif. Lisan dan perilaku kita akan tetap terjaga dari kemungkinan menyakiti orang lain.
    Siapa pun bisa marah. Bahkan, seorang nabi yang memiliki derajat, akhlak, kesalehan yang jauh lebih tinggi juga bisa marah. Karena mereka adalah contoh terbaik dari perilaku umat manusia, kita pun hendaknya meniru sikap beliau meredam marah.
    Tidak hanya itu, Allahsubhanahu wata'ala yang memiliki seluruh langit dan Bumi juga lebih mengedepankan cinta dan kasih sayang daripada murka-Nya. Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa “Rahmat Allah meliputi segala sesuatu”. Jika memang marah menjadi pilihan utama untuk menghadapi sikap yang membuat terluka dan kecewa, bisa saja kalimat tersebut akan menjadi seperti ini: “Kebencian-Ku meliputi segala sesuatu”.
    Allah yang Maha Memiliki seisi langit dan Bumi saja memilih mengedepankan rahmat-Nya, mengapa kita memilih untuk menyimpan dendam dan marah? Sifat Allah untuk selalu mendahulukan rahmat dan kasih sayang juga terungkap dalam salah satu kalimat dalam Al-Quran sebagai berikut: “Sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan murka-Ku.” Ayat ini mengungkapkan dengan tegas, semurka apa pun Ia, kasih sayang-Nya mampu mengalahkan rasa murka itu. Ayat ini memberikan penegasan betapa Allahsubhanahu wata'ala lebih memilih pendekatan kasih dan sayang daripada kemarahan atau kemurkaan. Padahal, sebagai Maha Pencipta dan Maha Memiliki, Ia berhak bila ingin memilih murka kepada hamba-Nya yang ingkari dan berbuat dosa. Namun, Allahsubhanahu wata'ala tidak memilih itu. Ia lebih memilih mencintai dan menyayangi hamba-hamba-Nya selama hamba itu mau bertobat.
    Jadi, marah memang dimungkinkan, tapi bukan sebuah solusi. Lebih baik menahan diri dan memberikan maaf tanpa diminta karena hal itu tidak akan menimbulkan efek penderitaan yang panjang. Jika marah yang kita pilih sebagai solusi, bisa saja yang dialami adalah kerugian, yang akhirnya mengganggu kesehatan dan hubungan sosial dengan orang lain. Jika marah tetap dipilih, marahlah dengan diam, sebagaimana telah dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
    dari buku Kekuatan Terapi Maaf
    Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabishollallohu ‘alaihi wa sallam“Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”
    Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)
    Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallamdan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)