Shopping Cart

Total Items:
SubTotal:
Tax Cost:
Shipping Cost:
Final Total:
Powered by Blogger.

Bukan hal yang salah ketika kita memilih untuk marah. Hal ini sangat manusiawi. Siapa pun berhak marah dan memperlihatkan sikap marah. Kita tidak perlu merasa berdosa. Selama sesuai konteks dan bisa dikendalikan, marah masih bisa diterima. Bahkan, Rasulullah Muhammadshallallahu 'alaihi wasallam, manusia yang sudah Allah subhanahu wata'ala jamin kesucian dan kerasulannya juga pernah marah. Namun, kemarahan Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam ditunjukkan dengan diam. Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam hanya menggunakan bahasa tubuhnya ketika marah. Hal itu ternyata sangat efektif membuat orang lain di sekitarnya sadar atas kesalahan mereka, terutama para istri Rasulullah yang pernah saling iri dan membenci satu sama lain. Demikian pula dengan para sahabat yang berada sangat dekat dengan beliau.
Tak ada ayat yang melarang kita marah. Yang paling sering disampaikan adalah menahannya. Allahsubhanahu wata'ala selalu mengatakan bahwa mereka yang mampu menahan amarah menunjukan derajat ketakwaan yang lebih tinggi. Berulang-ulang Allahsubhanahu wata'ala menganjurkan dalam Al-Quran untuk mengutamakan pemberian maaf. Lihatlah firman berikut ini.
“Apabila engkau memaafkan dan melapangkan dada serta melindungi, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.s At Taghaabun: 14).
“Maafkanlah mereka dan lapangkanlah dada. Sesungguhnya Allah senang kepada orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Q.s. Al Maidah: 13)
Kedua ayat tersebut menyiratkan bahwa marah bisa menjadi pilihan, namun memaafkan tetap merupakan pilihan terbaik.
Kadang, kita memang perlu mengambil sikap marah bila hal itu efektif untuk menggerakkan energi positif yang kita atau orang lain miliki. Mencontoh Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam ketika marah bisa kita jadikan pilihan. Bukan tanpa alasan Rasulshallallahu 'alaihi wasallam memilih diam ketika marah. Ketika marah, tanpa sadar kita bisa mengeluarkan kata-kata kasar atau sikap yang mungkin saja menyakiti hati orang lain. Keinginan untuk menjaga perasaan orang lain dari kemungkinan sakit hati adalah pilihan Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam. Itu sebabnya mengapa beliau memilih diam ketika marah.
Dalam salah satu haditsnya, Rasulullahshallallahu 'alaihi wasallam juga meminta kita untuk duduk, berbaring, dan segera berwudu ketika marah. Dingin dan segarnya air wudhu akan membuat kepala dan hati yang panas terbasuh dengan kesejukan. Tidak hanya itu, ketika berganti sikap tubuh saat sedang marah, secara tidak langsung telah memberitahu orang yang bersangkutan bahwa kita marah, tanpa harus mengungkapkannya dengan kata-kata. Begitu pula ketika harus memilih pergi untuk berwudu. Dengan pergi sesaat meninggalkan situasi tersebut, rasa marah bisa teredam dan kita dapat mengambil jarak sejenak dengan masalah yang dihadapi. Biasanya, dari situ kita akan lebih bisa melihat dan menilai persoalan dengan jernih. Dengan demikian, kita bisa terhindar dari kemarahan yang bersifat destruktif. Lisan dan perilaku kita akan tetap terjaga dari kemungkinan menyakiti orang lain.
Siapa pun bisa marah. Bahkan, seorang nabi yang memiliki derajat, akhlak, kesalehan yang jauh lebih tinggi juga bisa marah. Karena mereka adalah contoh terbaik dari perilaku umat manusia, kita pun hendaknya meniru sikap beliau meredam marah.
Tidak hanya itu, Allahsubhanahu wata'ala yang memiliki seluruh langit dan Bumi juga lebih mengedepankan cinta dan kasih sayang daripada murka-Nya. Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa “Rahmat Allah meliputi segala sesuatu”. Jika memang marah menjadi pilihan utama untuk menghadapi sikap yang membuat terluka dan kecewa, bisa saja kalimat tersebut akan menjadi seperti ini: “Kebencian-Ku meliputi segala sesuatu”.
Allah yang Maha Memiliki seisi langit dan Bumi saja memilih mengedepankan rahmat-Nya, mengapa kita memilih untuk menyimpan dendam dan marah? Sifat Allah untuk selalu mendahulukan rahmat dan kasih sayang juga terungkap dalam salah satu kalimat dalam Al-Quran sebagai berikut: “Sesungguhnya kasih sayang-Ku mengalahkan murka-Ku.” Ayat ini mengungkapkan dengan tegas, semurka apa pun Ia, kasih sayang-Nya mampu mengalahkan rasa murka itu. Ayat ini memberikan penegasan betapa Allahsubhanahu wata'ala lebih memilih pendekatan kasih dan sayang daripada kemarahan atau kemurkaan. Padahal, sebagai Maha Pencipta dan Maha Memiliki, Ia berhak bila ingin memilih murka kepada hamba-Nya yang ingkari dan berbuat dosa. Namun, Allahsubhanahu wata'ala tidak memilih itu. Ia lebih memilih mencintai dan menyayangi hamba-hamba-Nya selama hamba itu mau bertobat.
Jadi, marah memang dimungkinkan, tapi bukan sebuah solusi. Lebih baik menahan diri dan memberikan maaf tanpa diminta karena hal itu tidak akan menimbulkan efek penderitaan yang panjang. Jika marah yang kita pilih sebagai solusi, bisa saja yang dialami adalah kerugian, yang akhirnya mengganggu kesehatan dan hubungan sosial dengan orang lain. Jika marah tetap dipilih, marahlah dengan diam, sebagaimana telah dicontohkan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam.
dari buku Kekuatan Terapi Maaf
Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ada seorang lelaki berkata kepada Nabishollallohu ‘alaihi wa sallam“Berilah saya nasihat.” Beliau shollallohu ‘alaihi wa sallambersabda, “Jangan marah.” Lelaki itu terus mengulang-ulang permintaannya dan beliau tetap menjawab, “Jangan marah.” (HR. Bukhari). Imam Nawawi rohimahulloh mengatakan, “Makna jangan marah yaitu janganlah kamu tumpahkan kemarahanmu. Larangan ini bukan tertuju kepada rasa marah itu sendiri. Karena pada hakikatnya marah adalah tabi’at manusia, yang tidak mungkin bisa dihilangkan dari perasaan manusia.”
Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam juga pernah menasihatkan, “Apabila salah seorang dari kalian marah dalam kondisi berdiri maka hendaknya dia duduk. Kalau marahnya belum juga hilang maka hendaknya dia berbaring.” (HR. Ahmad, Shohih)
Dahulu ada juga seorang lelaki yang datang menemui Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallamdan mengatakan, “Wahai Rosululloh, ajarkanlah kepada saya sebuah ilmu yang bisa mendekatkan saya ke surga dan menjauhkan dari neraka.” Maka beliau shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Jangan tumpahkan kemarahanmu. Niscaya surga akan kau dapatkan.” (HR. Thobrani, Shohih)

You may also be interested in the following product(s)

If you enjoyed this article, subscribe to receive more great content just like it. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Feel free to leave a response

0 comments for "Ketika Marah Menjadi Pilihan"

Leave a reply