Ummu Al-Fadl bercerita, Suatu ketika aku menimang seorang bayi. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam , kemudian mengambil bayi itu lalu menggendongnya. Tiba-tiba sang bayi pipis dan membasahi pakaian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam langsung saja kurenggut secara kasar bayi itu dari gendongan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam pun menegurku, “Pakaian yang basah ini dapat dibersihkan oleh air, tetapi apa yang dapat menghilangkan kekeruhan dalam jiwa anak akibat renggutanmu yang kasar itu?”
Ketika ada anak yang dicap durhaka oleh masyarakat, pernahkah kita berpikir sebab apa yang membuat dia jadi bersikap durhaka pada orang tuanya. Pernahkah kita berpikir jika apa yang dilakukan oleh anak-anak adalah buah dari didikan orang tuanya.
Tanpa sadar, sering kali kita telah bersikap tidak adil pada anak-anak. Ini terjadi, mungkin karena kita tidak mengerti proses perkembangan anak. Ketika anak-anak berbuat salah dengan tergesa-gesa kita mencapnya nakal. Padahal, bisa jadi hal itulah yang mesti dialami oleh seorang anak sesuai dengan usianya. Dan kita juga dengan tergesa-gesa ingin membenarkan sikap anak kita.
Ketika anak berbuat salah dengan cepat sekali kita bereaksi. Mata kita melotot untuk membuat si buyung diam dari permainannya berloncat-loncat di atas kasur. Kita mengomel sepanjang hari ketika si upik merusak tas kesayangan kita. Bahkan, kita mencubitnya atau memukulnya kala mereka susah sekali disuruh mandi padahal hari menjelang maghrib.
Anak-anak tidak hanya mengalami kekerasan di luar rumah oleh teman-teman sekolah, teman-teman sepermainan, atau oleh guru di sekolah. Mereka juga mengalami kekerasan di dalam rumah. Kemana mereka mencari perlindungan ketika orang yang paling dekat dengan mereka mengasari mereka? Bisa jadi kita menganggap anak-anak semakin nakal karena kita semakin tidak sabar mendidik mereka atau karena kita tidak memberikan hak anak-anak dengan semestinya.
Pernah seorang laki-laki datang mengadu kepada Umar bin Khathab t bahwa anaknya telah durhaka kepadanya. Kemudian Umar mendatangkan anak itu untuk mengingatkannya bahwa ia telah mendurhakai bapaknya dan melupakan kewajibannya terhadap bapaknya.
Anak itu bertanya pada Umar, “Wahai Amirul Mukminin bukankah anak pun mempunyai hak-hak dari bapaknya?”
Umar menjawab, “Ya tentu!” Anak itu bertanya, “Apakah hak-hak itu wahai Amirul Mukminin?”
Umar menjawab, “Memilihkan ibunya, memberikan nama baik kepadanya, dan mengajarkan Al-Qur’an.”
Anak itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin, sesungguhnya ayahku belum pernah melaksanakan satu pun di antara semua hak itu. Ibuku adalah seorang bangsa Ethiopia, janda seorang Majusi, mereka telah menamakan aku ‘Si Kumbang Kelapa,’ dan belum pernah mengajarkan satu huruf pun dari Al-Kitab (Al-Qur’an).”
Kemudian Umar menoleh kepada laki-laki itu dan berkata, “Engkau telah datang menghadapku untuk mengadukan kedurhakaan anakmu, padahal engkau telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Engkau pun telah berbuat buruk kepadanya sebelum ia berbuat buruk kepadamu.”
Dikisahkan pula bahwa seorang ayah mencela anaknya dengan mencela ibunya. Si Ayah berkata, “Apakah engkau akan menentangku padahal engkau adalah anak seorang budak wanita?”
Si anak berkata kepada ayahnya, “Demi Allah, sesungguhnya ibuku lebih baik daripada engkau wahai ayahku!”
Si ayah bertanya, “Mengapa begitu?”
Si anak menjawab, “Karena dia telah menetukan pilihan yang baik sehingga dia melahirkan aku dari seorang laki-laki merdeka, sedangkan engkau telah menentukan pilihan yang jelek sehingga engkau melahirkan aku dari seorang budak wanita.”
Sebenarnya kalimat kotor dan jelek yang terucap dari lidah ayahnya bertujuan untuk mendidik dan memperbaiki kesalahan, besar atau kecil yang dilakukan oleh anak. Akan tetapi, cara untuk mengatasi perbuatan dosa tersebut tidak perlu dilakukan dengan emosional atau kekerasan yang dapat meninggalkan pengaruh buruk dalam jiwa dan tingkah laku pribadi anak yang kemudian akan membentuk menjadi manusia yang tumbuh dengan bahasa celaan dan hinaan sehingga akan seperti akhlaknya orang-orang hina dan bodoh.
Dengan perlakuan yang kejam ini, berarti kita telah berbuat dosa terhadap anak, selain telah menghancurkannya secara kejiwaan dan moral.
Lalu bagaimana cara menanggulangi anak yang melakukan kesalahan? Ada baiknya kita meniru cara yang dilakukan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yaitu dengan cara halus dan lemah lembut.
Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang baik dari Abu Umamah bahwa seorang pemuda datang menghadap Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dan berkata, “Wahai Nabi Allah, apakah engkau mengizinkan aku berbuat zina?”
Orang-orang mencemoohnya. Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, ”Mendekatlah engkau,” kemudian Pemuda itu mendekat hingga ia duduk di hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. Beliau bersabda, “Apakah engkau suka perzinaan itu terjadi pada ibumu?”
Pemuda itu berkata, “Tidak, semoga Allah menjadikan aku tebusanmu.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Demikian pula orang-orang tidak suka perzinaan itu terhadap ibu-ibu mereka. Apakah engkau suka terjadi terhadap putrimu?”
Pemuda itu berkata, “Tidak, semoga Allah menjadikan aku tebusanmu.”
Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda, “Demikian pula dengan orang lain, ia tidak menginginkan hal itu terjadi terhadap putrinya. Apakah engkau suka melakukannya dengan saudara perempuanmu?”
Demikian, selanjutnya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan bibi dari pihak ayah dan bibi dari pihak ibu, dan pemuda itu tetap mengatakan, “Tidak, semoga Allah menjadikanku tebusanmu.”
Kemudian Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam meletakkan tangannya di atas dada pemuda itu seraya berkata, “Ya Allah sucikanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan peliharalah kemaluannya.”
Setelah itu, pemuda itu berdiri dari hadapan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan perasaan bahwa tidak ada sesuatu yang paling ia benci daripada zina.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan dari Aisyah bahwa Rasulullah r bersabda, “Sesungguhnya Allah itu Mahalembut, serta menyukai kelembutan di segenap permasalahan.”
Ibu, mendidik anak menjadi manusia yang berakhlak islami tidaklah mudah. Janganlah risau! Bersabar dan ikhlaslah dalam semua usaha kita membesarkan anak-anak. Dengan sabar dan ikhlas, Allah I. akan membimbing kita dalam membesarkan anak-anak.
(dari Buku Kekuatan Doa Ibu, Ummi Maya)